Selamat Datang di Website Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Serang

Monitoring Ke Gunung Santri

4 gn.santri

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga kabupaten Serang melakukan kegiatan monitoring ke Makam Syekh Muhammad Shaleh di Gunung Santri yang merupakan daerah dari Kecamatan Bojonegara Kabupaten Serang . Syekh Muahammad Shaleh adalah Santri Dari Syayid Ali Rahmatullah ( Raden Rahmad ) atau Sunan Ampel.Sunan Ampel adalah Putra dari Sunan Gresik ( Maulana Malik Ibrahim ). Dalam kegiatan monitoring tersebut Kepala Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga Kabupaten Serang Drs. Hulaeli Asyikin, MBA didampingi oleh Sekretaris, Kabid Destinasi, Para Kasi dan Kasubag Dinas Parpora Kabupaten Serang.
3 gn. santri
Berikut Seklumit cerita sejarah Syekh Muhammad Shaleh :
Siapakah Syekh Muahammad shaleh ?
Beliau adalah Santri Dari Syayid Ali Rahmatullah ( Raden Rahmad ) atau Sunan Ampel .Sunan Ampel adalah Putra dari Sunan Gresik ( Maulana Malik Ibrahim ).
Di puncak gunung santri terdapat makan seorang wali yaitu Syekh Muhammad Sholeh, jarak tempuh dari kaki bukit menuju puncak bejarak 500 M hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Kampung di sekitar gunung santri antara lain Kejangkungan, Lumajang, Ciranggon, Beji, Gunung Santri dan Pangsoran. Di kaki bukit sebelah utara di kampung Beji terdapat masjid kuno yang seumur dengan masjid Banten lama yaitu Masjid Beji yang merupakan masjid bersejarah yang masih kokoh tegak berdiri sesuai dengan bentuk aslinya sejak zaman Kesultanan Banten yang kala itu Sultan Hasanudin memimpin Banten. Syekh Muhammad Sholeh adalah Santri dari Sunan Ampel, setelah menimba ilmu beliau menemui Sultan Syarif Hidayatullah atau lebih di kenal dengan gelar Sunan Gunung Jati (ayahanda dari Sultan Hasanudin) pada masa pemerintahan Cirebon. Dan Syeh Muhamad Sholeh diperintahkan oleh Sultan Syarif Hidayatullah untuk mencari putranya yang sudah lama tidak ke Cirebon dan sambil berdakwah yang kala itu Banten masih beragama hindu dan masih dibawah kekuasaan kerajaan padjadjaran yang dipimpin oleh Prabu Pucuk Umun dengan pusat pemerintahanya berada di Banten Girang. Sesuai ketelatennya akhirnya Syekh Muhammad Sholeh pun bertemu Sultan Hasanudin di Gunung Lempuyang dekat kampung Merapit Desa UkirSari Kecamatan Bojonegara yang terletak di sebelah barat pusat kecamatan yang sedang Bermunajat kepada Allah SWT. Setelah memaparkan maksud dan tujuannya, Sultan Hasanudin pun menolak untuk kembali ke Cirebon. Karena kedekatannya dengan ayahnya Sultan Hasanudin yaitu Syarif Hidayatullah, akhirnya Sultan Hasanudin pun mengangkat Syekh Muhammad Sholeh untuk menjadi pengawal sekaligus penasehat dengan julukan “Cili Kored” karena berhasil dengan pertanian dengan mengelola sawah untuk hidup sehari-hari dengan julukan sawah si derup yang berada di blok Beji.
Syiar agam Islam yang dilakukan Sultan Hasanudin mendapat tantangan dari Prabu Pucuk Umun, karena berhasil menyebarkan agama Islam di Banten sampai bagian Selatan Gunung Pulosari (Gunung Karang) dan Pulau Panaitan Ujung Kulon. Keberhasilan ini mengusik Prabu Pucuk Umun karena semakin kehilangan pengaruh, dan menantang Sultan Hasanudin untuk bertarung dengan cara mengadu ayam jago dan sebagai taruhannya akan dipotong lehernya, tantangan Prabu Pucuk umun diterima oleh sultan Hasanudin. Setelah Sultan Hasanudin bermusyawarah dengan pengawalnya Syekh Muhamad Soleh, akhirnya disepakati yang akan bertarung melawan Prabu Pucuk Umun adalah Syekh Muhamad Sholeh yang bisa menyerupai bentuk ayam jago seperti halnya ayam jago biasa , hal ini terjadi karena kekuasaan Allah SWT. Pertarungan dua ayam jago tersebut berlangsung seru dan akhirnya ayam jago milik Sultan Maulana Hasanudin yang memenangkan pertarungan dan beliau membawa ayam jago tersebut kerumahnya. Setelah Ayam jago tersebut dibawa pulang kerumahnya atas ijin Allah SWT ayam jago tersebut berubah kembali menjadi sosok Syekh Muhammad Sholeh . Akibat kekalahannya dalam adu ayam jago tersebut Prabu Pucuk Umun pun tidak terima dan mengajak berperang Sultan Maulana Hasanudin, sampai akhirnya pasukan Prabu Pucuk Umun pun kalah dalam perperangan dan mundur ke selatan bersembunyi di pedalaman rangkas yang sekarang lebih dikenal dengan suku Baduy.
Setelah selesai mengemban tugas dari Sultan Maulana Hasanudin, Syekh Muhammad Sholeh pun kembali ke kediamannya di Gunung santri dan melanjutkan aktifitasnya sebagai mubalik dan menyiarkan agama Islam kembali. Keberhasilan Syekh Muhammad Sholeh dalam menyebarkan agama Islam di pantai utara banten ini didasari dengan rasa keihlasan dan kejujuran dalam menanamkan tauhid kepada santrinya, semua itu patut di teladani oleh kita semua oleh generasi penerus untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Beliau Wafat pada usia 76 Tahun dan beliau berpesan kepada santrinya jika ia wafat untuk dimakamkan di Gunung Santri .Dekat makam beliau terdapat juga makam pengawal sekaligus santri syekh Muhammad Sholeh yaitu makam Malik, Isroil, Ali dan Akbar yang setia menemani beliau dalam meyiarkan agama Islam.

Ditulis pada : Agustus 18th, 2016 | Penulis : admin | Kategori : Berita Kepariwisataan

Berita Terkait

Selasa, 17 Juli 2018

Pencarian Berita

 FORMULIR KANG NONG 2018

 Annual Culture Festival

 Polls

Bagaimana tampilan website ini?

View Results

Loading ... Loading ...

 Statistik Pengunjung

  • 2489Total Pengunjung:
  • 4Pengunjung hari ini:
  • 16Pengunjung kemarin:
  • 118Pengunjung minggu ini:
  • 0Pengunjung Online:

Galeri Foto

Mari Berlibur ke Serang

 
Copyright © 2014 - 2018 | Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Serang
Tampilan website ini baik dilihat menggunakan Mozilla Firefox dengan resolusi minimal 1280 x 768 pixel.